Radiasi dan Kesehatan Manusia
Kita semua secara alamiah berada di dalam sebuah lingkungan radioaktif : matahari, bebatuan dan pegunungan menghasilkan suatu level radioaktivitas. Tingkat radiasi rata-rata dalam setahun di dunia diukur dalam satuan milisievert (mSv) yang mencapai angka 2.4 mSv tetapi angka ini bervariasi bergantung lokasinya. Sekitar setengah dari angka ini berasal dari radiasi gas radon dan produk peluruhannya.
Sejak adanya penemuan dan penerapan energi atom sekitar tahun 1945, tingkat radiasi meningkat terutama melalui pengembangan senjata atom yang meliputi uji coba dan pemakaiannya dan melalui pembangkit listrik nuklir termasuk proses penambangan uranium. Diperkirakan radiasi yang terlepas ke atmosfer sampai tahun 2000 dari uji coba senjata nuklir yang dilakukan pada tahun 50-an dan 60-an telah menyebabkan 430.000 kanker yang fatal di seluruh dunia. Dengan kecenderungan penerapan teknologi nuklir yang meningkat pada 50 tahun terakhir dan tahun-tahun mendatang melalui pemakaian senjata dan pembangkit listrik, diperkirakan resiko terkena kanker pada manusia semakin meningkat pula.
Tidak ada level minimum terkena radiasi dimana kita bisa terlepas dari resiko. Bahkan radiasi secara medis pada level sangat rendah sekalipun seperti Rongent sinar X pada dada (0,04 mSv sekali pemeriksaan) tetap saja membawa resiko yang tidak bisa diabaikan antara lain peningkatan kanker.

Radiasi pada manusia juga menyebabkan kerusakan pada DNA yang merupakan material genetik di dalam sel kehidupan. Suatu sel bisa memperbaiki level kerusakan tertentu pada DNA-nya khususnya pada level kerusakan rendah. Tetapi kesalahan yang dilakukan sel pada saat perbaikan dimungkinkan terjadi dan mendorong perkembangbiakan sel-sel abnormal yang kemudian juga menyebabkan kanker. Kanker yang seperti ini secara umum akan mengambil banyak pembentukan sel untuk berkembang dan hal ini bisa jadi membutuhkan waktu beberapa dekade sebelum kanker terdeteksi.
Pada level radiasi yang lebih tinggi, yang terjadi adalah kematian sel. Pada bagian-bagian tubuh dimana pergantian sel secara normal cukup tinggi, seperti sistem gastrointestinal dan sumsum tulang, sel-sel tersebut tidak mungkin tergantikan secara cepat. Jaringan-jaringannya akan mengalami kegagalan fungsi dan hal ini bisa menjadi fatal. Oleh karena jaringan-jaringan yang mengalami pembiakan dan diferensiasi secara cepat sangat sensitif terhadap radiasi, maka foetes (janin) menjadi sangat peka.
Exposure radiasi terhadap foetus meningkatkan resiko kanker pada anak-anak, di samping fakta di Hiroshima dan Nagasaki, yang keduanya pernah dibom atom, juga menunjukkan bahwa radiasi yang mengenai kandungan akan meningkatkan kecepatan microcephaly (perkembangan otak yang tidak cukup). Efek genetik jangka panjang juga sangat mungkin jika kerusakan DNA terjadi di dalam sel reproduksi (sel telur atau sperma), dimana kekacauan genetik ini akan diteruskan sampai pada generasi seterusnya.






wah..ngeri