Semakin dekat dengan pembangkit listrik nuklir, semakin besar resiko terkena leukemia dan kanker

Sampah Nuklir yang Terus Menggunung

Sampah Nuklir yang Terus Menggunung

Sebuah studi resmi yang dilakukan pemerintah Jerman menunjukkan bahwa resiko terkena kanker pada anak-anak yang baru tumbuh kembang meningkat drastis di dalam lingkungan pembangkit listrik nuklir. Lebih khusus lagi, leukemia merupakan kasus khusus kanker yang sering terjadi.

Di Jerman, semua kasus kanker pada anak-anak tercacat secara baik. Oleh sebab itu, hal ini sangat memungkinkan dilakukannya investigasi pada kasus kanker anak-anak berdasarkan data-data kasus kanker tersebut dari tahun 1983-2003. Terdapat 1592 anak-anak dengan usia kurang dari 5 tahun yang terkena penyakit ini dan 4735 anak-anak sehat yang dilibatkan dalam studi ini.

Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa resiko paling tinggi terkena kanker terjadi pada anak-anak yang tinggal di dalam radius 5 km dari pembangkit listrik nuklir. Berikut beberapa detail hasil studi yang telah dilakukan :

  • Menurut angka statistik normal, seharusnya hanya terdapat 48 kasus kanker dan 17 leukimia pada anak-anak yang tinggal di dalam radius 5 km dari pembangkit nuklir.
  • Tetapi data menunjukkan terdapat 77 kasus kanker (hal ini bahkan 60% lebih banyak dari angka yang diharapkan) adan 37 kasus leukimia (117% lebih banyak dari angka normal yang diharapkan).
  • Personil yang secara langsung terlibat dalam studi ini seperti yang disebutkan dalam Spiegel online, menyatakan bahwa ada kemungkinan resiko yang tinggi terkena leukemia pula bahkan untuk wilayah di dalam radius 50 km dari pembangkit daya nuklir.

Kepada radio Swiss, pemimpin studi ini, Maria Blettner mengatakan, “Kami secara statistic memang bisa membuktikan bahwa resiko pada anak-anak terkena kanker meningkat jika mereka tinggal dan tumbuh di lingkungan pembangkit nuklir. Tetapi apapun itu kami tidak tahu apa yang menyebabkan peningkatan resiko ini. Sepanjang pengetahuan kami, radiasi radioaktif terlalu kecil kemungkinan untuk menjadi penyebab hal ini.”dan lebih lanjut beliau mengatakan, “ kami tidak bisa menarik kesimpulan apapun untuk orang dewasa. Sederhananya kami tidak mengumpulkan data yang berkait orang dewasa di Jerman”

Menegaskan studi sebelumnya tentang radiasi radioaktif penyebab kanker

Anak Penderita Leukimia

Anak menderita Leukimia

Ternyata sebelumnya terdapat sejumlah studi internasional, yang menunjukkan peningkatan resiko terkena kanker bahkan dengan dosis radiasi sangat kecil sekalipun. Jadi hasil studi di Jerman ini tidak terlalu mengejutkan. Hal ini tampaknya menjadi studi pertama yang membuktikan bahwa resiko anak-anak terkena kanker meningkat dengan semakin dekat mereka tinggal di sekitar pembangkit nuklir.

Walaupun Jerman sudah memutuskan untuk menghentikan secara bertahap pembangkit daya nuklir sampai 2020, studi ini semakin menghangatkan diskusi apakah penghentian nuklir secara bertahap seharusnya dipercepat.

Ini baru sebagian akibatnya terhadap manusia. Jika anda belum bisa membayangkan akibat yang disebabkan dari radiasi nuklir ini coba sempatkan menonton beberapa film dokumenter yang seluruhnya berdasarkan fakta sesungguhnya yang mengisahkan tentang mimpi buruk nuklir seperti THE SACRIFICE (24 menit / 2003), THE DARK CIRCLE (73 menit / 1982), DISASTER: CRITICAL ERROR (30 menit / 1998), NOWHERE TO RUN (21 menit / 2003), FALL-OUT FROM CHERNOBYL (50 menit / 1996), PANDORA’S BOX: A IS FOR ATOM (60 menit / 1992), ATOMIC LIES (41 menit / 2002) dan film fiksi THE CHINA SYNDROME (118 menit / 1979) atau silakan membaca kisah-kisah yang terjadi pada kecelakaan Chernobyl di Ukraina atau Three Miles Island di Amerika.

Apakah kita hanya menunggu dibangunnya PLTN begitu saja?

Sebelum anda buru-buru memikirkan iming-iming menggiurkan dengan adanya pembangkit listrik nuklir terhadap mata pencaharian, pertanian, peternakan anda, coba pikirkanlah dulu nasib anak-anak, cucu-cucu, cicit-cicit anda di masa mendatang tentang harapan hidup mereka. Apakah anda akan mengabaikan fakta ini dan membiarkan dan menunggu waktu saja nuklir di Jepara segera dibangun dengan kemegahan pendanaannya sehingga begitu proyek ini sudah dimulai akan semakin sulit bagi kita semua menghentikannya karena mereka memang semakin sulit dihentikan jika sudah merasa mengeluarkan banyak uang. Sementara nasib anak, cucu, cicit kita tidak jelas hidupnya dan terbayang menjadi generasi yang rapuh rentan penyakit hanya karena pembangkit nuklir yang hanya memuaskan segelintir orang di Jakarta sana karena merasa berhasil membangun nuklir yang hebat tak tertandingi.

Kita tidak dapat memastikan bahwa jika kita semua berada di lingkungan pembangkit nuklir, kita sepenuhnya aman dari radiasi radioaktif seperti yang digembar-gemborkan pengelola, penyelenggara nuklir nasional. Realitas menunjukkan bahwa kita tidak sepenuhnya aman bahkan untuk suatu kondisi yang biasa dikatakan normal untuk ukuran pembangkit nuklir, kondisi tidak terdapat kecelakaan. Kita akan lebih sulit jika membayangkan jika terjadi gempa bumi, angin topan, sambaran petir, gunung meletus, dinding penghalang radiasi roboh di mana semua kemungkinan ini sangat mungkin terjadi karena kita sedang tinggal di bumi yang ringkih dan tak terduga. Dengan kata lain, kita tidak bisa menantang kepada Tuhan bahwa kita bisa menjamin keamanan 100% suatu sistem. Itu sangat arogan.

Kita harus menyebut Jerman sebagai Negara yang cukup bijak dengan mendasarkan kebijakan nuklirnya pada studi ilmiah sehingga bisa memutuskan kapan harus menghentikan nuklirnya secara bertahap sampai 2020 dan didesak untuk mempercepatnya. Lalu atas semua ini, pemerintah kita justru ingin membangun Nuklir yang bahkan jelas-jelas 100% impor teknologi dan 100% mahal dan lebih jelas lagi 100% berpotensi membunuh rakyatnya khususnya masyarakat Jepara? Apakah kita menjadi terbuai dengan janji-janji mereka (pemerintah kita) bahwa kita pasti mengalami peningkatan pendapatan dan prosperity? Apakah kita mau nasib anak cucu kita ditukar begitu saja dengan kepingan-kepingan rupiah yang akhirnya hanya akan kita masukkan ke dalam rekening rumah sakit atas biaya perawatan anak cucu kita?

Sumber :

timeforchange

roelworks

Baca juga :

Leukimia

Nuklir Indonesia : Akan Jadi Perulangan Nuklir Pilipina?

Pro dan Kontra Pembangkit Nuklir

Radiasi dan Kesehatan Manusia

Listrik Nuklir Murah dan Aman? Inikah Cara Pemerintah Membodohi Rakyat?

Comments
4 Responses to “Semakin dekat dengan pembangkit listrik nuklir, semakin besar resiko terkena leukemia dan kanker”
  1. anto berkata:

    tolak PLTN aja kali ya

  2. Lianti berkata:

    Saya fikir anda terlalu berlebihan memandang nuklir. Buktinya sy yg sdh 2 kali berkunjung ke reaktor nuklirnya langsung. Sama sekali tdk terpapar radiasi nuklir. Dan berapa banyak pegawai batan yg bersentuhan dng reaktor langsung sehat wal afiat, dan memiliki keturunan yg sehat. Dng tehnologi terbaru saat ini sy fikir kt bisa meminimalisir resiko radiasi nuklir. Saya sarankan anda unt duduk bersama unt berdiskusi dlm satu forum bersama kawan2 batan dan para pakar unt memikirkan bersama solusi dari masalah energi kita yg mendekati kritis.

    • San berkata:

      Ini atas dasar data ilmiah, Mbak. Satu hal yang perlu anda ketahui bahwa paparan radiasi nuklir tidak akan terlihat oleh mata telanjang. pada dosis yang rendah, tentu efeknya tidak akan terlihat langsung tp bisa baru terjadi setelah bertahun-tahun, pada usia senja misalnya. kalau dianalogikan, saat seseorang makan daging ayam yang mengandung formalin tentu tidak saat itu juga mengetahui efeknya tp akan bersifat akumulatif dan ketahuan efeknya pada usia senja misalnya, dengan terkena penyakit. saya pikir pemerintah dan batan sudah tidak lagi memberi informasi proporsional kpd masyarakat dan sudah masuk dalam wilayah politis. tentang teknologi nuklir, sebaik apapun teknologi itu, probabilitas sekecil apapun akan selalu ada. itu sudah hukum tuhan.
      Jika anda jeli terhadap perkembangan nuklir, nuklir saat ini sama sekali belum feasible secara ekonomi. Hanya negara yang mendasarkan kebijakannya atas geopolitik saja yang berniat membangun nuklir seperti Iran, israel, maupun Libya. Saya sarankan anda lebih banyak menggali informasi tentang nuklir dari sumber-sumber yang obyektif dan ilmiah, dan cobalah berempati pada daerah yang akan dibangun PLTN yaitu balong, Jepara. bayangkan jika sebelah rumah anda akan dibangun PLTN dan anda selalu was-was terhadap ledakan dan paparan radiasi pada keluarga anda

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] berbeda berkombinasi menjadi penyebab penyakit tersebut. Faktor-faktor ini antara lain genetika, radiasi, bahan kimia yang berada di lingkungan dan virus yang menyebabkan kanker, dan barang kali masih […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: