Keunikan dan Serba-Serbi Pemilu Legislatif 2009

Lahan Yang Dikontrakkan Menjadi Modal

Jika Anda Punya Lahan Luas yang banyak menampung Rumah warga silakan mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Jadi kalaupun toh tidak terpilih menjadi anggota legislatif, setidaknya anda masih punya kekuasaan dengan menggusuri warga yang menunjukkan gelagat tidak mau memilih. Ini seperti terjadi di Mamuju, Sulawesi dan di sejumlah daerah lainnya.

‘Bantuan yang Sudah Diberikan Tidak Boleh Diminta Kembali’

Semua orang tahu bahwa saat seseorang mencalonkan diri sebagai caleg dan mulai mambagi-bagi material maupun properti kepada kelompok masyarakat ataupun organisasi yang bisa menjaring massa, jangan sekali-kali secara polos mengatakan orang tersebut seorang penderma dan tidak ada maunya di balik ‘perbuatan baiknya’. Tentu saja hal itu dilakukan dengan maksud agar pihak yang diberi bantuan yang biasanya terdiri dari orang-orang yang memiliki hak pilih pemilu berbondong-bondong menuju TPS dan menyontreng atas namanya. Jauh-jauh hari si caleg sudah bermimpi akan hal itu dan tiket impian menuju DPR bisa cepat-cepat di tangan.

Kalau pada akhirnya harus gagal dan impian menjadi DPR buyar, ternyata banyak kejadian menarik di berbagai daerah yaitu si caleg tak segan-segan menarik segala bantuan dan properti yang pernah dikeluarkan dari wilayah TPS yang tidak memilih dirinya. Hukum yang dianut caleg tersebut barang kali jangan sampai lakukan pengaspalan jalan, pembangunan jembatan, saluran irigasi dan masjid karena jika penduduk setempat tidak memilih, si caleg gagal tentu saja tidak bisa mengeruk aspalnya kembali atau membawa jembatan, saluran irigasi dan masjid yang sudah dibangun ke rumah. Sebaiknya pilih saja alat-alat atau material yang bisa ditarik kembali dan masih berharga setidaknya untuk barang bekas. Sedangkan bagi kelompok masyarakat yang diberi bantuan sebaiknya sudah mengantisipasi dengan menyediakan surat perjanjian dengan pemberi bantuan bahwa apapun nasib si caleg nanti bantuan tidak dapat ditarik kembali. Seperti ada slogan ‘barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan’ maka di sini juga bisa dibuat slogan ‘bantuan yang sudah diberikan tidak boleh diminta kembali’.

Si Kalah Bisa Gila

Jika anda mengajukan diri jadi caleg, persiapkan diri anda kalau-kalau anda menjadi pasien rumah sakit jiwa apabila mengalami kekalahan. Paska pemilu legislatif jelas berkah tersendiri bagi pengelola dan pihak yang berbisnis dengan rumah sakit jiwa, psikiater dan balai pengobatan kejiwaan lainnya. Bisa dikatakan inilah saat musim menangguk rejeki selain musim-musim paceklik tentunya yang juga rentan membuat orang stres. Rumah-rumah sakit jiwa begitu percaya diri sebelum pemilu digelar bahwa akan banyak pasien yang akan datang setelah pemilu dan mereka sudah bersiap diri dengan tawaran fitur-fitur yang bisa dipilih para pasien. Ruang yang nyaman, tenaga medis yang berpengalaman dan privasi yang terjaga tampaknya menjadi poin-poin utama yang dipersiapkan pihak rumah sakit.

Dan benar juga jika akhirnya banyak pasien yang datang akibat frustrasi akan kegagalan pemilu maupun hal yang berkaitan dengan keruwetan pemilu. Dokter dan staf segera saja jadi selebritis dadakan dikejar-kejar wartawan dimintai keterangan tentang sang caleg. Jadi beginilah Pemilu 2009 tampaknya benar-benar lebih dari sekedar acara reality show pasaran yang mulai membosankan seperti di TV-TV nasional kita.

Janji Manis yang Jadi Pemanis

Janji manis hanyalah janji manis yang penampakannya seperti pemanis buatan yang hanya berguna di lidah tetapi tidak berguna ketika sampai di pencernaan. Pada saat kampanye para caleg berlomba-lomba mempopulerkan diri dan berusaha menarik simpati masyarakat dengan melontarkan janji-janji manis kalau tidak mau disebut terlampau manis. Kata kuncinya adalah memberantas kemiskinan, pendidikan gratis, kesejahteraan sekaligus keadilan, kualitas hidup, memajukan negara, berjuang untuk bangsa, mengharumkan nama negara dan seabrek kata-kata yang mudah menguap kepanasan akibat global warming. Satu lagi slogan yang paling populer adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai seolah-olah mereka lupa bahwa banyak dari mereka sendiri sebenarnya mencalonkan diri sebagai caleg adalah untuk mencari pekerjaan yaitu sebagai anggota legislatif yang digaji dan menikmati fasilitas. Banyak dari mereka sebelumnya adalah pengangguran, lontang-lantung, pemimpi yang menginginkan perbaikan nasib melalui kursi empuk DPR. Umumnya (dengan tidak mengatakan semuanya karena saya masih berharap ada DPR yang bernurani) motivasi mereka menduduki jabatan DPR tidak lebih dari mencari status sosial, kedudukan yang tinggi, uang, serta kekuasaan, alih-alih memikirkan persoalan-persoalan urgen dan relevan mengenai rakyat. Bahkan tidak sedikit pula dan yang lebih tragis motivasi balas dendam dijadikan pertimbangan seseorang maju sebagai caleg.

Semua hal ini mengingatkan saya pada sebuah saran agama tentang menjalankan suatu ibadah. Jika melakukan ibadah jangan sekali-kali gunakan motivasi duniawi seperti untuk mencari pekerjaan, agar dikaruniai rejeki, enteng jodoh dan persoalan dunia lainnya. Karena jika demikian motivasinya maka tujuan hanya berhenti pada titik itu saja. Jika telah berhasil mendapat pekerjaan, memperoleh rezeki yang cukup atau sudah ketemu jodoh, maka itu adalah titik akhir. Pencapaian ibadah tidak lebih dari mengejar duniawi tanpa memperoleh hikmah-hikmah ibadah, kemuliaan pahala dan kedekatan ilahiyah. Tetapi jika melakukan ibadah demi hikmah dan kedekatan ilahiyah, maka tujuan ukhrowi dan ilahiyah bisa tercapai dan Tuhan juga tidak pernah mengabaikan pencapaian duniawi umatnya. Seperti menanam padi, pastilah rumput akan diperoleh, sedangkan jika menanam rumput mustahil berharap memanen padi. Hal yang sama saya pikir jika caleg hanya termotivasi atas pencapaian-pencapaian pribadi maka urusannya tidak jauh-jauh dari pencarian status sosial yang buta, kegemilangan uang, kesenangan pribadi yang dangkal dan kekuasaan yang impoten tanpa upaya positif yang terlalu berarti bagi konstituen yang memilihnya.

Ajang Pencarian Bakat Tanpa Aksi Panggung

Pemilu caleg 2009 ini tak ubahnya seperti ajang pencarian bakat seperti yang ditayangkan di beberapa televisi nasional dimana caleg harus membayari konstituen dengan sejumlah uang ataupun imbalan lainnya, sementara calon bintang ajang pencarian bakat juga membayari orang-orang agar memilih dirinya atau setidaknya membelikan pulsa untuk mengirim sms atas dirinya.

Pemilu Legislatif=Vegas-nya Indonesia?

Selain semua yang hebat di atas, pemilu legislatif 2009 ini tak ubahnya seperti pertarungan gambling atau judi. Tidak ada jaminan bahwa caleg yang memiliki karakter, gagasan yang menonjol, program yang memikat akan memenangkan kursi. Yang menjadi daya tawar di sini adalah kekuatan finansial. Secara kasar siapa yang mau bayar dialah yang berpeluang besar akan terpilih. Sedemikian akut kondisi masyarakat kita akan korupsi dan kolusi dan hal ini tampaknya sudah mengakar sampai tingkat bawah sekalipun, dari tukang parkir sampai pejabat tinggi, dari satpam sampai hakim berlomba-lomba berebut uang panas. Mayoritas caleg serentak mempertaruhkan sejumlah uang untuk membiayai politik uangnya dan juga segala tetek bengek keperluan kampanye dimana kebanyakan uang tersebut berasal dari kantong pribadi dan kalau perlu gali lubang sana sini. Jika nantinya terpilih hadiah yang menanti adalah kursi empuk DPR dengan iming-iming uang komisi dan lahan basah lainnya dan tinggal bersiap-siap untuk ajang serupa lima tahun selanjutnya.

Kompetisi berhenti pada upaya pemenangan pemilu saja, selanjutnya tidak terlalu penting yang hukumnya sunnah. Jika terpilih anda tidak harus memenuhi janji-janji saat kampanye, tidak harus bersusah payah mengeluarkan sumber daya untuk membantu masyarakat. Biar wakil-wakil yang ‘bodoh’ saja yang mau memikirkan persoalan masyarakat. Toh masyarakat akan lupa sendiri atau mungkin masyarakat juga sudah sadar betul untuk tidak sekali-kali mengharap bantuan dari wakil rakyat terhormat. Jika anda kalah, bisa jadi utang menumpuk, ditinggal sendiri, dicap sebagai pecundang dan rasa malu yang dibawa sampai mati adalah sebagian akibat yang ditanggung sementara rumah sakit jiwa sudah melambai-lambai telah menyiapkan ruang khusus jauh-jauh hari untuk menampung ‘korban-korban’ pemilu. Kalau perlu istri juga ikut-ikutan minta cerai melihat suami sudah tidak gagah dan tidak populer lagi.


Jika saya sinis, skeptis dan nyinyir kepada mereka-mereka, tetaplah ini adalah harga yang terlalu murah jika mereka tidak becus bekerja. Jadi harapan tetaplah harapan, bahwa semua akan berubah menjadi lebih baik dan semua pihak bisa bertepuk tangan dan tersenyum sesenyum-senyumnya.

Comments
2 Responses to “Keunikan dan Serba-Serbi Pemilu Legislatif 2009”
  1. Andriy berkata:

    di bagian “Janji Manis yang Jadi Pemanis” … paragraf kedua.
    well, that’s really impressed me
    nice

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: