Nuklir Indonesia : Akan Jadi Perulangan Nuklir Pilipina?

sm16tolakpti20Jika Anggota Perwakilan Philipina Mark Cojuangco pernah mengatakan mengenai nuklir Pilipina bahwa di dalam reaktor nuklir sama sekali tidak ada bagian yang bergerak dan nuklir tak ubahnya seperti kompor berukuran besar, sementara dari dalam negeri pihak yang berkepentingan dengan nuklir juga tak kalah bersemangat menenangkan masyarakat yang mencemaskan nuklir. Seperti dikutip detiknews.com, Menristek Kusmayanto Kadiman pernah mengatakan bahwa PLTN sama sekali lebih aman dari pada merokok. Saya pikir beliau menganggap jika sebenarnya banyak orang Indonesia yang memiliki kebiasaan merokok dan sudah tahu bahaya merokok, jadi kurang lebih seharusnya rakyat Indonesia sudah akrab betul dengan nuklir yang bahayanya hanya lebih ringan dari pada rokok. Sebuah pernyataan yang sangat berani dan sedikit mengecilkan bagaimana sebenarnya kompleksitas nuklir berikut instalasi pendukungnya. Mark Cojuangco dan Kusmayanto Kadiman adalah dua orang penting yang sama-sama berasal dari negara berkembang, dengan kesemrawutan manajemen, negara dengan riwayat korupsi yang panjang dan sama-sama memiliki sejarah hitam penyengsaraan rakyat oleh rezim penguasa. Dalam hal nuklir, kebetulan Pilipina berhasil lebih dulu membangun pembangkit listrik nuklir di semenanjung Bataan, Pilipina. Jadi Pilipina adalalah contoh yang sangat bagus bagi Indonesia yang berkeinginan membangun nuklir dengan melihat semua kesamaan kedua negara ini secara mengagumkan dan bagaimana sebuah negara dengan keruwetan seperti Pilipina membangun nuklir bisa menjadi gambaran yang menarik ketika Indonesia akan mulai membangun.

Mulai dibangun tahun 1976, Bataan Pilipina adalah pembangkit nuklir high-maintenance dengan cita rasa ongkos yang sangat mahal tetapi tidak pernah beroperasi. Pembangunan selesai pada 1984 dan pendanaan Bataan selama 20 tahun dilakukan dengan hutang luar negeri, terbesar yang pernah dilakukan pemerintah Pilipina. Hutang tersebut baru saja selesai dilunasi tahun kemarin, 32 tahun setelah 32 tahun konstruksi dimulai, dengan biaya total yang mencapai 21.2 milyar peso Pilipina (sekitar $460 juta dolar). Masih saja ada berita buruk bagi semua orang di Pilipina, Presiden terdahulu Pilipina Ferdinand Marcos memperkaya dirinya sendiri yang mencapai $80 juta dalam pembayaran kembali dari kesepakatan. Alih-alih mencoba menggugat kontraktor, Westinghouse Electric Company, terkait korupsi dan penggelembungan harga dalam kontrak tetapi justru ditolak Pengadilan AS.

Dari sejak awal, Bataan tak ubahnya seperti gadis dengan masalah-masalah: 4000 kesalahan dan isu keselamatan tepatnya. Dan walaupun mendapat kemurahan hati Bapaknya (Pemerintah Pilipina), Bataan tak pernah melangkahkan kakinya. Tak ada roda bahan bakar yang pernah diproses, tak ada satu watt pun listrik yang dihasilkan. Jadi beginilah ‘kompor’ yang dibangun di Pilipina. Dengan cara seperti itu, setidaknya Bataan bisa menjadi contoh pembangkit nuklir menarik bagi semua negara dunia ketiga jika ingin membangun nuklir. Benar-benar bersih dan aman? Dan nona Bataan di sana kesepian saat ini, menjadi aib negara dan pengangguran.

Inilah korupsi, manajemen amburadul, serta hutang luar negeri bercampur aduk membangun Nuklir. Jika Nuklir mulai dibangun di Indonesia jangan serta merta membayangkan bahwa Indonesia sudah seperti Perancis atau Amerika (yang sebenarnya kedua negara ini juga mempunyai sejarah kecelakaan nuklir dan berbagai masalah) yang mapan dan manajemen yang handal. Tetapi kita harus berintrospeksi bahwa kita tak lebih dari Pilipina yang tertatih-tatih dalam membangun nuklir. Jika tak mau jauh-jauh pergi ke Pilipina, kita sudah cukup banyak mendapat tanda dan pelajaran sebelumny seperti kasus korupsi dan masalah Pembangkit listrik tenaga gas yang diimpor beberapa tahun lalu, utang luar negeri yang menggelembung, defisit APBN, dan Lapindo yang sarat masalah teknis dan miskin penanganan bencana. Jadi apakah kita akan menunggu Pak Menristek yang terhormat mewujudkan nuklir impiannya (kalau tidak mau disebut utopia) yang lebih aman dari pada merokok yang terinspirasi kompor Pilipina?

referensi :

www.detik.com

www.Greenpeace.org

Comments
One Response to “Nuklir Indonesia : Akan Jadi Perulangan Nuklir Pilipina?”
  1. Rena berkata:

    Ya begini nuklir di negara berkembang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: