NURDIN HALID, SANG PAHLAWAN ATAU SANG PECUNDANG?

Sepakbola Indonesia kali ini telah berada di titik paling nadir dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Prestasi, jelas tak bisa diandalkan sementara banyak aspek lain yang kini memasuki dunia persepakbolaan yang membubuhkan citra makin negative atas sepakbola yang sebenarnya merupakan olahraga yang paling dicintai di negeri ini. Aspek eksternal yang semakin ramah dengan sepakbola Indonesia, antara lain kerusuhan penonton yang terjadi di berbagai daerah akibat fanatisme yang berlebihan, kelakuan banyak pemain professional juga tak ubahnya atlit bela diri yang mereka tampilkan di lapangan, indikasi kasus suap dan nuansa politis tercermin dari permainan wasit di lapangan dan kebijakan PSSI yang permisif terhadap pihak luar dan juga aroma politis yang kental dari sang ketua umum.

Ibarat drama, dalam setahun ini penikmat sepakbola Indonesia tak henti tersuguhi sajian peran antagonis dan protagonis dalam panggung sepak bola Indonesia. Kita menyaksikan kegagalan timnas Indonesia di level internasional dan Asia, kebangkrutan klub-klub Indonesia akibat terhentinya dana APBD, kompetisi yang amburadul, regenerasi yang mandek dan terakhir sekaligus fenomenal tentu saja penyusupan Hendri Mulyadi ke lapangan pada saat Indonesia bertanding melawan Oman, yang kemudian sang actor didaulat sebagai pahlawan dan pendobrak oleh publik dalam lakon melawan PSSI sang antagonis, hingga Presiden SBY pun tergerak angkat bicara mengenai sepakbola dan PSSI.

Jika benar drama, seharusnya saat ini sudah memasuki fase klimaks dan segera memasuki tahap penyelesaian yang menuntut akhir manis layaknya sinetron yang digemari masyarakat dimana indikasi terlihat dari penonton yang mulai muak dan capek. Bolehlah kita menebak dengan dua kemungkinan yang bisa diupayakan oleh semua actor. Kemungkinan pertama, saya berharap ada pihak di luar PSSI yang cukup prihatin dengan persepakbolaan Indonesia yang memiliki komitmen memajukan persepakbolaan Indonesia.

Kemungkinan kedua, tentu saya berharap actor pahlawan itu adalah sang ketua umum sendiri, tidak lain adalah bapak terhormat Nurdin Halid. Jika hujatan tak mempan, jika rekomendasi presiden tak tergubris, jika cacian hanya seperti angin lewat, tentulah orang tersebut adalah orang hebat, yang bisa membalikkan keadaan sepakbola Indonesia menjadi puncak prestasi. Nurdin Halid yang dari zero menjadi hero, dari bukan apa-apa menjadi pahlawan yang bangkit dari keterpurukan. Saya membayangkan sepakbola dibawa kemajuan : kompetisi yang mapan, klub-klub yang berkecukupan financial dari pendapatannya sendiri, pembinaan pemain muda yang terstruktur dan prestasi Internasional yang tinggal menunggu. Jika akhirnya kemungkinan kedua ini bisa benar-benar terjadi, sejarah persepakbolaan Indonesia bisa benar-benar diangkat ke layar lebar dan Pak Nurdin Halid bisa tersenyum menontonnya sambil pensiun.

Jika ternyata drama ini belum mencapai titik penyelesaian, barang kali akan membuat penonton bosan dan berpindah channel lain, sehingga sepakbola makin kehilangan momentum kebangkitannya di Indonesia, yang disebabkan sang sutradara dan penulis scenario tidak ingin cepat mengakhiri cerita karena rating sudah terlanjur di atas.

Comments
One Response to “NURDIN HALID, SANG PAHLAWAN ATAU SANG PECUNDANG?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: