Pahlawan Simbolis

Publik Amerika mengenal Rosa Park sebagai pahlawan melawan perjuangan rasis di AS yang kemudian diyakini memberikan inspirasi terkait kemunculan Marthen Luther King sang pejuang kaum negro AS. Keengganannya memberikan kursi bagi kaum putih ketika menaiki bus membawanya sebagai symbol pertentangan kepada hegemoni ras kaukasus Amerika. Pengorbanan Park dengan kurungan penjara sudah cukup membuatnya dipuja kaum negro.

Jauh di seberang Amerika, yakni di Indonesia negeri kita tercinta, kita mengenal Arif Rahman Hakim, Ade Irma Nasution. Kita mengenal mereka sebagai pahlawan karena kemalangan mereka karena menjadi tumbal suatu peristiwa politik.

Dalam era kontemporer, pahlawan simbolis tidak hanya identik dengan dinamika social maupun politik. Beberapa waktu lalu ranah sepakbola memuja sosok yang dianggap pahlawan karena berhasil menampar jajaran pengurus PSSI. Masyarakat kemudian mentahbiskannya sebagai pahlawan sebagai symbol penentangan mereka terhadap status quo/stagnasi kepemimpinan nurdin halid, sang pemuncak PSSI. Ketika Hendri Mulyadi menyusup Stadion utama GBK saat pertandingan Indonesia melawan Oman sedang berlangsung. Ada pula yang berupaya mempahlawankan duo dara sinta dan jojo sebagai penentangan mereka, masyarakat dunia maya terhadap moral para selebritis nasional yang keluberan aib dari pada buah seni yang dihasilkan. Keberadaan komunitas maya cukup meluangkan bagi kehadiran pahlawan-pahlawan baru di berbagai ranah.

SBY juga bisa jadi salah satu pahlawan simbolis yang membawa berkah pada kepopuleran dan menyembulkannya ke kursi presiden meski sedikit dibumbui aroma pencitraan. Pak SBY lihai memainkan komunikasi public dan menjelmakan serangan kontra dari lawan sebagai keuntungan politik beliau. Saat itu menjelang pilpres 2004, pak SBY adalah abdi Ibu megawati, sang presiden yang menduduki mentri Polhukam. Peristiwa politik kala itu diinterpretasi media sebagai bentuk ‘penganiayaan’ Megawati kepada SBY. Bola panas politik menjadi menggelinding dengan pemantik pemilu 2004. Hal ini membakar kepopuleran SBY hingga menahbiskannya sebagai madu untuk pemilu 2004. Berbagai partai mengembang pada SBY

Dengan keruwetan Indonesia saat ini, masih terbuka lebar kesempatan menjadi pahlawan-pahlawan. Atau setidak-tidaknya selama DPR masih amburadul, selama aparat pemerintah masih setengah hati memimpin, atau lebih luas lagi selama dinamika masih berdenyut. Ada yang minat jadi pahlawan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: